jazakumulloh khoiron katsiro atas kunjungannya
Showing posts with label Rain Is My Destiny (Islam). Show all posts
Showing posts with label Rain Is My Destiny (Islam). Show all posts
62

Bila Istri Lebih Alim dari Suami

Bismillah

Shalih dan baik pemahaman diennya. Salah satu karakter utama sosok lelaki dambaan muslimah. Tentu saja. Suami adalah pemimpin rumah tangga dengan salah satu tugas utamanya : ”qu anfusakum wa ahlikum naro” jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka (QS. At Tahrim : 6). Sedang ilmu dan keshalihan adalah satu-satunya sarana yang mampu menyelamatkan manusia dari neraka, dengan rahmat Allah Ta’ala. Dengan ilmu dan keshalihannya, diharapkan suami dapat mengarahkan bahtera rumah tangga sampai tujuan dan melindunginya dari badai fitnah dunia yang membinasakan.

Bersyukurlah jika anda mendapat suami yang seperti ini. Hanya saja, takdir hidup yang harus dijalani setiap muslimah tidak selalunya sempurna sesuai yang didamba. Ada kalanya yang terjadi justru sebaliknya, Istri kebih shalih dan lebih paham agama daripada suaminya. Misalnya, suami lulus SMA sedang istri alumni pesantren yang tentunya relatif lebih mahir dalam agama.

Apakah ini salah? Tentu saja tidak. Bukankah petunjuk Rasulullah mengarahkan agar lelaki memilih wanita karena agamanya, ilmu dan keshalihatannya? Jadi tidak salah jika ada lelaki yang mencari istri yang lebih pintar diennya, lebih shalih kepribadiannya dari dirinya. Sebab, dua hal inilah yang akan menyebabkan ”taribat yadaka” suami mendapatkan keberuntungan.

Artinya, dalam hal keshalihan dan ilmu agama, tidak masalah jika ternyata istri lebih unggul daripada suaminya. Bahkan boleh jadi suami harus banyak belajar kepadanya. Kalau ada yang menginginkan emansipasi alias kesetaraan gender atau bahkan mengunggulkan gender sebagai wanita atas laki-laki, disinilah tempatnya. Buatlah diri anda sebagai wanita setara atau bahkan lebih tinggi dari laki-laki, dalam hal ilmu agama dan keshalihan
. Bukan dalam hal kesempatan keluar rumah, memakai kaos, menanggalkan jilbabnya atau pun jabatan politik.

Seperti Abu Wada’ah yang menikah dengan putri Said bin al Musayib, imam besar para Tabi’in, ulama yang sangat disegani bahkan oleh penguasa. Abu Wada’ah adalah duda miskin dan murid dari Said bin al Musayib, sedang putri Said bin al Musayib adalah wanita yang mewarisi ilmu juga keshalihan yang luar biasa dari ayahnya. Tadinya Abu Wada’ah segan saat ditawari sendiri oleh gurunya agar menikahi putrinya. Tapi karena Said bin al Musayib meyakinkan dirinya, akhirnya ia maju, merengkuh anugrah terindah itu. Abu Wada’ah memuji istrinya dengan, ”Istriku adalah wanita yang paling cantik di madinah, paling hafal kitabullah dan paling mengerti hadits Rasulullah dan paling paham hak-hak suami.”

Jika anda mengalami hal seperti ini, jangan sampai anda merasa tidak beruntung dijodohkan Allah dengan laki-laki yang tak sebagaimana yang anda damba. Justru Allah tengah memercayakan sebuah tugas mulia kepada anda sebagai pemegang kompas sekaligus navigator dalam bahtera rumah tangga. Sebuah kepercayaan tidak akan Allah berikan kecuali kepada yang memang dipercaya oleh-Nya. Yang perlu anda lakukan adalah membuktikan bahwa anda memang layak diberi kepercayaan itu. Yaitu dengan memberikan seluruh ilmu dan teladan yang baik untuk keluarga.

Atau barangkali khasusnya begini, anda dan suami menikah dan sama-sama memulai rumah tangga tanpa bekal pengetahuan Islam. Tapi kemudian Allah lebih dulu memberi hidayah kepada anda daripada suami dalam mendalami Islam dan mengamalkannya. Sama saja, ini juga merupakan amanah dari Allah. Amanah agar andalah yang menjadi pelita di rumah tangga untuk meneranginya dengan cahaya ilmu dan iman.

Ilmu adalah amanah. Di dalam kitab Syarh Ushuluts Tsalatsah dijelaskan bahwa kita wajib belajar dan melakukan empat hal,
1. Mencari ilmu,
Yaitu mengenal Allah (ma’rifatullah), mengenal Nabi-Nya (ma’rifatur rasul), dan mengenal dien-Nya (ma’rifatud dien) dengan dalil.
2. Mengamalkan iimu tersebut.
3. Mendakwahkannya.
4. Bersabar atas segala gangguan dalam menjalani tiga hal sebelumnya.

Sebelum anda tahu (berilmu) anda wajib mencari ilmu (thalabul ’ilmi). Setelah tahu, anda wajib mengamalkannnya semaksimal kemampuan anda. Setelah itu mendakwahkannya. Nah, dalam hal dakwah, keluarga adalah obyek dakwah utama anda. Orangtua, anak-anak termasuk juga suami. Merekalah yang paling perlu mendapat siraman dakwah dari ilmu yang telah anda dapatkan.

Yang terakhir adalah bersabar. Bersabar dalam mencari ilmu, dalam mengamalkannya dan juga bersabar saat mendakwahkannya. Dalam kondisi ini, nasihat untuk bersabar menjadi nasihat yang paling anda butuhkan. Barangkali, akan ada kendala mental yang cukup besar yang harus anda hadapi karena anda harus mendakwahi ”pimpinan” anda. Namanya suami ada kalanya kurang berkenan saat dinasehati atau bahkan baru sekedar merasa dinasehati oleh istrinya.Bahkan meski dengan bahasa yang sudah diperhalus sekalipun. Saat inilah jamu kesabaran harus anda minum agar hati tenang dan terhindar dari putus asa. Tetap berusaha sebaik-baiknya dalam berdakwah memanggul amanah dari Allah. Jangan menyerah meskipun berat karena pahala di sisi-Nya sangatlah agung. Sekali lagi, buktikan bahwa anda memang layak diberi kepercayaan ini. Jika sukses, anda benar-benar akan menjadi anugrah terindah bagi keluarga anda. Wallahua’lam.

44

Purpose


everything has a purpose
even machines. . .
clocks tell the time. . .and trains take you places. . .
they do what they're meant to do. . .
maybe that's why broken machines make me so sad. . .
they can't do what they're meant to do
maybe it's the same with people. . .
if you lose your purpose. . .it's like you're broken
maybe we can fix it. . .
is that our purpose. . .fixing things

i'd imagine the whole world was one big machine. . .
machines never come with any extra parts
they always come with the exact amount they need. . .
so i figured if the entire world was one big machine
i couldn't be an extra part. . .
i had to be here for some reason
and that means you have to be here for some reason, too

"wa ma kholaqtul jinna wal insa illa liya'budun" (QS. Adz-Dzariyat [51] : 56)

59

Liberalisme, Musuh Bersama Umat Muslim Di Dunia

Bismillah

Prof Al Amin Al Hajj (Rabitah Ulama Lil Muslimin)

MAKASSAR- Ketua Ikatan Ulama Muslim Se Dunia (Rabitah Ulama Lil Muslimin), Prof Al Amin Al Hajj, menyatakan bahwa fenomena liberalisme harus menjadi pekerjaan rumah bersama bagi setiap umat muslim di dunia. Sebab virus akidah ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi juga seluruh dunia. Tidak terkecuali di Sudan.

"Apa yang terjadi di Indonesia, juga terjadi di Sudan. Jadi keadaan di Indonesia, menjadi PR bersama yang harus kita hadapi," tegas ulama asal Sudan.

ia mengatakan bahwa Indonesia sebagai Negara muslim terbesar di dunia telah menjadi sasaran bagi para musuh Allah. Namun ia optimis Indonesia mampu menghadapi itu semua.

"Indonesia ini masyaAllah. Indonesia diperkuat dengan orang-orang yang mumpuni keilmuannya, karena saya dalam kunjungan ke sini mendapatkan orang-orang yang memperjuangkan kebenaran baik dari para ulama maupun para dai," sambungnya.

Ulama kelahiran 1946 berharap agar organisasi keulamaan seperti MIUMI bisa berkembang menjadi lebih baik dan terus bertambah. "Saya merespon positif," tukasnya.

Selama empat hari, Ulama yang telah menghasilkan berbagai buku ini dan telah diakui kedalaman ilmunya berkesempatan bersilaturahmi dan berbagi ilmu dengan kaum muslimin Makassar. Kunjungan Dakwah di Makassar, terhitung mulai Kamis hingga Ahad, 1 - 4 Maret 2012. (era/risalahtauhidnews)



INDONESIA. . .TANPA JIL
20

Menghormati Yang Lebih Tua

Bismillah

Bila engkau ingin membuka pintu-pintu surga, hormatilah kedua orang tuamu. Sebaliknya, bila ingin membuka pintu-pintu neraka maka kedurhakaan kepada orang tua adalah kendaraan yang paling cepat menuju ke tempat jahanam itu. Bahkan, siksanya pun disegerakan tanpa harus menunggu kiamat. Rasululloh bersabda, “Semua dosa akan ditangguhkan Allah sampai hari kiamat, kecuali durhaka kepada orang tua. Maka sesungguhnya Allah akan menyegerakan kepada pelakunya di dunia sebelum meninggal.” (HR Hakim)

Itulah sebabnya, ajaran budi pekerti paling awal adalah pelajaran untuk bersikap santun dan menghormati orang tua. Rosululloh bersabda, “Bukanlah pengikutku, mereka yang tidak hormat pada yang tua dan sayang pada yang kecil.”

"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi anak kecil kami." (HR. Abu Dawud dan At-Tarmidzi. Al-Imam An-Nawawi menshahihkannya dalam Riyadhush Shalikhin)

"Barang siapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami maka bukan termasuk golongan kami." (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad no. 271)

Bahkan, mereka yang mengolok-olok dan menghina orang tua yang lain, sama saja dengan menghinakan kedua orang tua kandungnya sendiri.

“Sesungguhnya di antara sebesar-besar dosa ialah seseorang yang melaknati orang tuanya sendiri.” Para sahabat merasa heran bagaimana mungkin seseorang melaknati orang tuanya padahal mereka adalah penyebab dilahirkannya. Kemudian, para sahabat bertanya, “Bagaimana seseorang melaknati orang tuanya sendiri?” Rosululloh menjawab, “Dia mencaci ayah orang lain dan ia mencaci ibu orang lain.” (HR Bukhari Muslim)

Anak yang saleh tidak hanya mendoakan orang tuanya yang telah meninggal, tetapi tanda-tanda kesalehannya akan tampak ketika dia melanjutkan silaturahminya dengan kerabat dan sahabat orang tuanya.

Suatu ketika, Abdullah bin Umar ra sedang mengendarai keledainya. Tiba-tiba lewatlah seorang Arab gunung. Beliau bertanya pada orang itu, “Bukankah engkau anaknya Fulan bin Fulan?” Dia menjawab, “Benar.” Serta merta Ibnu Umar ra memberikan keledainya sembari berkata, “Naiklah.” Beliau juga memberikan surbannya dan mengatakan, “Ikat kepalamu dengan surban ini.” Melihat hal itu, sahabat-sahabat beliaupun berkata, “Semoga Allah mengampunimu. Mengapa engkau berikan kepada orang Arab gunung itu keledaimu yang biasa engkau kendarai serta surbanmu yang biasa engkau gunakan untuk mengikat kepalamu?” Beliau pun menjawab, “Sesungguhnya aku pernah mendengar Rosululloh SAW bersabda, “Di antara sebaik-baik bakti kepada orang tua adalah menyambung tali kekerabatan dengan keluarga orang yang dicintai ayahnya sepeninggalnya.” Beliau muliakan orang Arab gunung itu karena ayah orang itu adalah teman ayahnya yaitu Umar bin Khattab ra. (HR Muslim)

Pantaslah orang-orang saleh, bila bersilaturahim senantiasa membawa putra dan putrinya, kemudian memperkenalkan mereka kepada sahabat-sahabatnya. Selain itu, mereka juga diajarkan untuk meneruskan persahabatan dan kekerabatan tersebut. Mereka mengajarkan etika sopan santun kepada orang yang lebih tua. Mereka inilah yang dijanjikan akan mendapatkan kenikmatan surga adnin. (QS. Ar-Ra’du [13] : 23)

Wallahu a’lam
16

Penyakit Sombong

Bismillah. . .


Menghargai diri secara berlebihan atau sombong menjadi penyakit sebagian manusia. Dalam sabdanya Rosululloh mengatakan sombong itu menolak kebenaran dan merendahkan manusia.

Banyak ayat dan hadist yang melarang pentingnya meninggalkan sifat sombong namun penyakit tersebut seolah sulit dihilangkan oleh sebagian orang.

Setidaknya ada empat hal yang membuat manusia digerogoti penyakit sombong, yakni kekuasaan, pengetahuan, kekayaan dan ketampanan atau kecantikan. Keempat hal itu semuanya dicari orang, jika tidak dinapasi iman terhadap Allah SWT, keempat hal itu bisa menjadi bibit kesombongan. Demikian isi khotbah yang disampaikan mubalig Solo, H Dardiri Hasyim di Masjid Ponpes (Pondok Pesantren) Imam Syuhodo, Sukoharjo, Jumat (17/2) siang tadi.

Pertama, kekuasaan atau wewenang atas sesuatu untuk menentukan. Kekuasaan itu menjadikan orang berada pada tataran atas. Orang yang berkuasa akan membawahi siapa saja. Peluang berada di puncak kekuasaan itulah yang kerap menjadikan manusia lupa siapa dirinya. Seperti halnya saat Firaun menggenggam kekuasaan ia lupa terhadap siapa yang menciptakannya bahkan dengan sombong menyebut dirinya tuhan, “(Seraya) berkata “Akulah tuhanmu yang paling tinggi,” (QS. An Naazi’aat : 24). Sikap Firaun itu mengantarkannya mendapat azab Allah SWT di dunia dan akhirat.

Kedua, Pengetahuan, kepandaian atau segala sesuatu yang diketahui dapat membuat seseorang berbuat apa saja terhadap orang lain dengan pengetahuan yang dimilikinya. Padahal, "di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui," (QS. Yusuf : 76). Sepintar-pintarnya manusia menguasai pengetahuan, ilmu yang dimilikinya hanyalah bagian kecil dari tingginya ilmu Allah SWT.

Ketiga, harta benda atau kekayaan menjadi penyakit yang paling melenakan manusia hingga ia menjadi sombong. Harta kekayaan bisa membuat seseorang melakukan apa saja dan menyuruh orang lain berbuat sesuai kehendaknya. Dengan kekayaan seseorang merasa dirinya cukup dan akan mengaggap orang lain yang tidak cukup membutuhkan dia, kekayaan juga bisa membuat seseorang berbuat semena-mena terhadap orang lain. Allah SWT berfirman, “Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas karena dia melihat dirinya serba cukup,” (QS. Al Alaq : 6-7).

Keempat, ketampanan dan kecantikan. Orang tampan dan cantik banyak dicari orang, sehingga orang tampan dan cantik bisa berbuat apa saja dan mempermainkan orang yang mencarinya. Ketampanan dan kecantikan jika dimiliki orang yang tidak memiliki iman akan berbahaya dan menjerumus kepada kemaksiatan.

Keempat hal tersebut, yakni kekuasaan, pengetahuan, kekayaan dan ketampanan atau kecantikan seharusnya tidak membuat manusia sombong. Keempat hal tersebut harusnya menjadi sarana manusia untuk beribadah dan semakin bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Allah SWT.

Kesombongan hanyalah akan menyengsarakan manusia baik di dunia maupun di akhirat. Rosululloh SAW bersabda, “tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walau seberat zarrah (atom)”. ( HR. Bukhari)

Allah berfirman, “Dan Tuhanmu berfirman : “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina,” (QS. Al Mu’min : 60).

"Kesombongan adalah selendang-Ku (Allah), keagungan adalah sarung-Ku, Siapa melepaskan kedua pakaian itu dari-Ku, maka Aku akan membinasakannya dan tidak akan Aku berikan rahmat kepadanya." (HR. Muslim)

Ali Ra mengatakan manusia tidak patut berlaku sombong karena asal kejadian manusia berasal dari setetes mani dan akhirnya menjadi bangkai dan antara keduanya (kehidupan) membawa kotoran. Dalam hidupnya sesungguhnya manusia selalu membawa kotoran. Lalu, pantaskah berbuat sombong??
41

The Devil And The Jews

Bismillah

Hubungan Mesra Antara Iblis dan Yahudi

1. SIFAT PERTAMA "dengki" 

Iblis dikenal sebagai makhluk yang dengki, Dan orang-orang Yahudi adalah orang-orang yang paling dengki

2. SIFAT KEDUA "sombong dan rasialis" 

Setelah Allah menciptakan Adam, Allah meminta malaikat dan Iblis untuk bersujud kepada Adam, namun Iblis menolaknya. Allah berfirman, "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" Iblis menjawab, "Aku lebih baik daripadanya: Engkau ciptakan aku dari api sedang Engkau ciptakan dia dari tanah" (QS. Al-A’raf [7] : 12)

Orang-orang Yahudi juga meneriakkan rasialisme dan menganggap diri mereka sebagai Sya’bullah al-Mukhtar (bangsa Allah yang terpilih). Orang-orang Yahudi dan Nasrani mengatakan, "Kami ini adalah anak-anak Allah dan kekasih-kekasih-Nya" (QS. Al-Maidah [5] : 18)

3. SIFAT KETIGA "Iblis dan Yahudi kerjanya merusak" 

Tentang Iblis, Allah berfirman, "Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar" (QS. An-Nuur [24] : 21)

Tentang Yahudi, Allah berfirman, "(yaitu) orang-orang yang melanggar perjanjian Allah sesudah perjanjian itu mengikat, dan memutuskan apa yang diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi" (QS. Al-Baqarah [2] : 27)

4. SIFAT KEEMPAT "Allah menyebut Iblis sebagai musuh bagi manusia dan memerintahkan manusia untuk menjadikannya sebagai musuh abadi"

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh(mu)". (QS. Fathir [35] : 6)

Dan "Allah menggambarkan orang-orang Yahudi sebagai orang yang paling memusuhi umat Islam"

 Allah berfirman, "Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik" (QS. Al-Maidah [5] : 82)

5. SIFAT KELIMA "Allah telah memperingatkan umat Islam agar jangan terpengaruh dan menjadi pengikut Iblis" 

Allah berfirman, "Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan…" (QS. An-Nuur [24] : 21)

Tentang Yahudi "Allah juga melarang umat Islam untuk menjadi teman dan pengikut mereka"

"Wahai orang-orang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim". (QS. Al-Ma’idah [5] : 51)

6. SIFAT KEENAM "Iblis dan Yahudi berhasrat untuk mengkafirkan umat Islam dengan segala cara"

Iblis berkata, "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus". (QS. Al-A’raf [7] : 16)

Tentang hasrat Yahudi untuk mengkafirkan umat Islam. Allah berfirman, "Sebagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran". (QS. Al-Baqarah [2] : 109)

7. SIFAT KETUJUH "Yahudi lebih kasar dan tidak sopan perkataannya kepada Allah dibanding Iblis" 

Ketika bersumpah untuk menyesatkan manusia, Iblis masih bersumpah dengan Kekuasaan Allah. Iblis berkata, "Demi kekuasaan-Mu, aku akan menyesatkan mereka semuanya" (QS. Shad [38] : 82)

Sedangkan Yahudi sama sekali tidak mengenal kemuliaan Allah. Mereka tidak pernah berharap Kemuliaan Allah. Dalam firman Allah, Sesungguhnya Allah telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan, "Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya" (QS. Ali Imran [3] : 181)

Orang-orang Yahudi berkata: "Tangan Allah terbelenggu" (QS. Al-Maidah [5] : 64)
42

Surat Untuk Umat Muslim







Bismillah

Saya tertarik sekali menanggapi Surat Cinta Sejatiku Buat Presiden Dan Wakil Presiden yang pernah diposting oleh Nurmayanti Zain, sepertinya saya sedikit mengerti misi dari sang penulis yang terdapat pada surat tersebut, InsyaAllah.

Memang meresahkan sekali melihat fakta yang terpampang di negara kita ini sejak adanya Demokrasi (Salah satu rekaan Barat yang paling berhasil digunakan untuk mewujudkan ambisi-ambisi mereka). 

STANDAR KEBENARAN DEMOKRASI : SUARA MAYORITAS

Dari sekian alasan yang mendorong kita untuk menolak demokrasi adalah karena demokrasi itu tegak diatas suara mayoritas tanpa melihat lagi jenis suara mayoritas yang ada. Tolak ukur kebenaran dalam demokrasi ditentukan oleh pendapat mayoritas.

Berangkat dari prinsip ini. Para pemimpin partai yang berhaluan demokrasi selalu berupaya mencari keridhaan mayoritas rakyat dengan segala cara, walaupun harus mengorbankan aqidah, harga diri. Agama dan kehormatan. Mereka melakukan semua ini untuk dapat meraih suara mayoritas rakyat dalam kompetisi-kompetisi pemilu yang beraneka ragam.

Kebenaran Tidak Ditentukan Oleh Banyaknya Pelaku, Tetapi Oleh Dalil-Dalil Syar’i

Sebagai pengikut Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, kita memandang bahwa kebenaran hanya ditentukan melalui dalil-dalil syar’i (Al-Quran dan As-Sunnah, serta yang ditunjukan oleh keduanya-penerj), bukan dari banyaknya orang yang mengerjakannya atau suara mayoritas rakyat.

Secara factual telah diketahui, rakyat sebuah bangsa tidak mungkin memerintah sendiri, tetapi memerintah melalui para wakilnya yang terwujud dalam anggota majelis perwakilan yang telah mereka pilih.

Oleh karena itu, berubahlah kehendak rakyat pada umumnya menjadi kehendak wakil rakyat. Saat itulah muncul kesewenang-wenangan / kediktaktoran baru, karena kehendak rakyat beralih ke tangan orang-orang yang mereka pilih saja. Akibatnya, rakyat tidak mampu untuk membatalkan, menghapus, ataupun mengubah keputusan yang telah ditetapkan oleh para wakilnya.

Menurut banyak pakar politik, prinsip mayoritas adalah teori yang paling berbahaya terhadap berlangsungnya kebebasan individu, karena setiap perbuatan yang muncul dari orang yang terpilih dapat menjadi hukum sekaligus undang-undang hanya karena ia merupakan kehendak rakyat. Dari sini kita bisa melihat bahwa mayoritas pendapat yang ada telah berubah menjadi kesewenang-wenangan, dan fakta telah membuktikan hal itu. Oleh karena itu, seharusnya umat Islam menjadi umat yang bersandar pada dalil syar’I, bukan pada suara mayoritas.

Dengan demikian, kita bisa melihat, pengikut para rasul jumlahnya sengat sedikit. Sedangkan para pengikut thaghut jumlahnya sangat banyak.

Sebagaimana Allah Swt telah berfirman kepada Nuh as setelah tinggal bersama kaumnya selama satu millennium kurang lima puluh tahun (950 tahun). Firman Allah Swt :






hattaa idzaa jaa-a amrunaa wafaara alttannuuru qulnaa ihmil fiihaa min kullin zawjayni itsnayni wa-ahlaka illaa man sabaqa 'alayhi alqawlu waman aamana wamaa aamana ma'ahu illaa qaliilun

Hingga apabila perintah Kami datang dan dapur telah memancarkan air, Kami berfirman: “Muatkanlah ke dalam bahtera itu dari masing-masing binatang sepasang (jantan dan betina), dan keluargamu kecuali orang yang telah terdahulu ketetapan terhadapnya dan (muatkan pula) orang-orang yang beriman.” Dan tidak beriman bersama dengan Nuh itu kecuali sedikit. (QS. Hud [11] : 40)

Demikian pula Fir’aun –laknatullah- saat akan menganiaya sahabat-sahabat Nabi Musa, Fir’aun menyifati mereka dan berkata :




inna haaulaa-i lasyirdzimatun qaliiluuna

(Fir’aun berkata), “Sesungguhnya mereka (Bani Israil) benar-benar golongan kecil.” (QS Asy-Syu’araa [26] : 54)

Namun Allah mencela mayoritas yang telah mengantarkan Fir’aun menjadi penguasa absolute. Firman Allah Swt :




faistakhaffa qawmahu fa-athaa'uuhu innahum kaanuu qawman faasiqiina

Maka Fir’aun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik. (QS. Az-Zukhruf [43] : 54)

Kalau kita merenungkan firman Allah maka kita akan melihat, acapkali Allah mengaitkan jumlah mayoritas dengan celaan (adz-dzam) dan jumlah minoritas dengan pujian (al-madh). Firman Allah :




ya'rifuuna ni'mata allaahi tsumma yunkiruunahaa wa-aktsaruhumu alkaafiruuna

Mereka mengetahui nikmat Allah, kemudian mereka mengingkarinya dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS. An-Nahl [16] : 83)






awa kullamaa 'aahaduu 'ahdan nabadzahu fariiqun minhum bal aktsaruhum laa yu’minuuna

Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? Bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman. (QS. Al-Baqarah [2] : 100)




walaqad sharrafnaahu baynahum liyadzdzakkaruu fa-abaa aktsaru alnnaasi illaa kufuuraan

Dan sesungguhnya Kami telah mempergilirkan hujan itu di antara manusia supaya mereka mengambil pelajaran (daripadanya); maka kebanyakan manusia itu tidak mau kecuali mengingkari (nikmat). (QS. Al-Furqan [25] : 50)






wataraa katsiiran minhum yusaari'uuna fii al-itsmi waal'udwaani wa-aklihimu alssuhta labi'sa maa kaanuu ya'maluuna

Kamu akan melihat kebanyakan dari mereka (orang-orang yahudi) bersegera membuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram (QS. Al-Maidah [5] : 62)






wamaa yattabi'u aktsaruhum illaa zhannan inna alzhzhanna laa yughnii mina alhaqqi syay-an inna allaaha 'aliimun bimaa yaf'aluuna

Kebanyakan mereka tidak mengikuti kecuali persangkaan saja, sesungguhnya persangkaan itu tidak sedikitpun berguna untuk mencapai kebenaran, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Yunus [10] : 36)




wamaa yu'minu aktsaruhum biallaahi illaa wahum musyrikuuna

Sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam mempersekutukan Allah (dengan sesembahan lain). (QS. Yusuf [12] : 106)










qaala laqad zhalamaka bisu-aali na'jatika ilaa ni'aajihi wa-inna katsiiran mina alkhulathaa-i layabghii ba'dhuhum 'alaa ba'dhin illaa alladziina aamanuu wa'amiluu alshshaalihaati waqaliilun maa hum wazhanna daawuudu annamaa fatannaahu faistaghfara rabbahu wakharra raaki'an wa-anaaba

Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat lalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan seseungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat. (QS. Shaad [38] : 24)









wamaa lakum allaa ta'kuluu mimmaa dzukira ismu allaahi 'alayhi waqad fashshala lakum maa harrama 'alaykum illaa maa idthurirtum ilayhi wa-inna katsiiran layudhilluuna bi-ahwaa-ihim bighayri 'ilmin inna rabbaka huwa a'lamu bialmu'tadiina

Mengapa kamu tidak mau memakan (binatang-binatang yang halal) yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya, padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya. Dan sesungguhnya kebanyakan (dari manusia) benar-benar hendak menyesatkan (orang lain) dengan hawa nafsu mereka tanpa pengetahuan.  Sesungguhnya Tuhanmu, Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al-An’am [6] : 119)


Sebaliknya, ketika Allah berbicara mengenai jumlah yang sedikit, biasanya disertai dengan pujian (al-madh). Seperti firman Allah Swt :











wa-idz akhadznaa miitsaaqa banii israa-iila laa ta'buduuna illaa allaaha wabialwaalidayni ihsaanan wadzii alqurbaa waalyataamaa waalmasaakiini waquuluu lilnnaasi husnan wa-aqiimuu alshshalaata waaatuu alzzakaata tsumma tawallaytum illaa qaliilan minkum wa-antum mu'ridhuuna 

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israel (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah salat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. Al-Baqarah [2] : 83)




waqaaluu quluubunaa ghulfun bal la'anahumu allaahu bikufrihim faqaliilan maa yu'minuuna

Dan mereka berkata, “Hati kami tertutup”, tetapi sebenarnya Allah telah mengutuk mereka, maka sedikit sekali mereka yang beriman (QS. Al-Baqarah [2] : 88)














falammaa fashala thaaluutu bialjunuudi qaala inna allaaha mubtaliikum binaharin faman syariba minhu falaysa minnii waman lam yath'amhu fa-innahu minnii illaa mani ightarafa ghurfatan biyadihi fasyaribuu minhu illaa qaliilan minhum falammaa jaawazahu huwa waalladziina aamanuu ma'ahu qaaluu laa thaaqata lanaa alyawma bijaaluuta wajunuudihi qaala alladziina yazhunnuuna annahum mulaaquu allaahi kam min fi-atin qaliilatin ghalabat fi-atan katsiiratan bi-idzni allaahi waallaahu ma'a alshshaabiriina

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya, bukanlah ia pengikutku. Dan barang siapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka ia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2] : 249)



 



qaala ara-aytaka haadzaa alladzii karramta 'alayya la-in akhkhartani ilaa yawmi alqiyaamati la-ahtanikanna dzurriyyatahu illaa qaliilaan

(Iblis berkata), “terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh kepadaku sampai Hari Kiamat, niscaya akan aku sesatkan anak keturunannya, kecuali sebagian kecil.”(QS. Al-Isra [17] : 62)






ya'maluuna lahu maa yasyaau min mahaariiba watamaatsiila wajifaanin kaaljawaabi waquduurin raasiyaatin i'maluu aala daawuuda syukran waqaliilun min 'ibaadiya alsysyakuuru 

Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah). Dan sedikit sekali dari hamba-hamba Ku yang berterima kasih. (QS. Saba [34] : 13)


Dalam kehidupan dunia, kebenaran (pendapat) tidaklah diukur dan ditetapkan oleh sedikit atau banyaknya jumlah orang yang melakukannya. Akan tetapi, kebenaran itu harus diukur dan ditetapkan oleh kaidah-kaidah, prinsip-prinsip, dan Manhaj Rabbani yang diturunkan dari langit. Firman Allah Swt :










afaman kaana 'alaa bayyinatin min rabbihi wayatluuhu syaahidun minhu wamin qablihi kitaabu muusaa imaaman warahmatan ulaa-ika yu/minuuna bihi waman yakfur bihi mina al-ahzaabi faalnnaaru maw'iduhu falaa taku fii miryatin minhu innahu alhaqqu min rabbika walaakinna aktsara alnnaasi laa yu'minuuna 

Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang mempunyai bukti yang nyata (Al Qur’an) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad) dari Allah dan sebelum Al Qur’an itu telah ada kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat?  Mereka itu beriman kepada Al Qur’an. Dan barang siapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Qur’an, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Qur’an itu.  Sesungguhnya (Al Qur’an) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman. (QS. Hud [11] : 17)


Kebenaran bukan ditetapkan oleh suara mayoritas sekalipun yang menang tersebut kaum muslim. Ukuran kebenaran juga bukan ditentukan oleh kongres atau parlemen yang mengacungkan dan menurunkan tangan berdasarkan hawa nafsu yang mengakibatkan kehancuran bangsa tersebut. Islam telah memiliki Manhaj Rabbani, satu-satunya pelindung bagi manusia.

Dari sinilah, para shalaf ash-shalih tatkala menafsirkan kata al-jama’ah yang termaktub dalam hadist Nabi saw dengan makna konsisten (iltizam) dalam kebenaran (al-haq), walaupun anda seorang diri. 

Abu Syamah berkata dalam kitabnya al-Ba’its halaman 22 : Ketika datang perintah untuk menetapi jamaah, yang dimaksud adalah tetap konsisten dalam kebenaran (al-haq) dan selalu mengikutinya, walaupun orang yang berpegang teguh pada kebenaran sangat sedikit dan para penentangnya sangat banyak. Kebenaran (al-haq) itulah yang dipegang oleh jamaah yang pertama, yaitu Rasulullah saw dan para sahabat ra, tanpa melihat lagi banyaknya pengikut kebatilan. 

Imam Bukhari menafsirkan kata al-jama’ah dengan makna yang ahli dalam fkih dan ulama. Beliau berjata dalam bab (Demikianlah Allah menjadikan kalian umat yangadil (ummatan wasathan), “Apa yang diperintahkan oleh Rasulullah saw untuk mengikuti jama’ah, maksudnya adalah mengikuti ahlul ‘ilmi.” 

Imam Tarmidzi berkata mengenai tafsir dari kata jama’ah : Menurut ahlul ‘ilmi yang dimaksud dari kata jama'ah adalah ulama yang memiliki kedalaman ilmu (ahl al-‘ilm), pakar dalam fikh (ahl al-fiqh), dan pakar dalam hadist (ahl al-hadist). 

Ibnu Sinan menafsirkan al-jama’ah adalah orang yang memiliki kedalaman ilmu (ahl al-‘ilm) dan para ahli hadist (ash-habul atsar)

Walaupun ulama berbeda pendapat mengenai tafsir dari kata al-jama’ah tetapi mereka semua kembali pada makna yang satu, yaitu siapa saja yang meneladani keadaan dan hal ihwal Rasulullah dan para sahabat. Sama saja apakah jumlah mereka sedikit ataupun banyak, walaupun umat berbeda-beda dalam kondisi, tempat dan jamannya. Karena itu, Abdullah bin Mas’ud berkata mengenai kata al-jama’ah, “Apa saja yang sesuai dengan kebenaran (al-haq) walaupun anda seorang diri.” Dalam lafadz lain, al-jama’ah adalah “apa saja yang sesuai dengan ketaatan kepada Allah walau anda dalam keadaan seorang diri.”

"Tulisan ini diikutsertakan dalam Giveaway Kemilau Cahaya Emas yang diselenggarakan oleh Nurmayanti Zain"
32

Obat Penenang Jiwa


Segala puji untuk Allah, Yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk dan obat bagi hamba-hamba yang beriman. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada Imam orang-orang yang bertakwa, yang telah menguraikan ayat-ayat-Nya kepada segenap umatnya. Amma ba’du.

Saudaraku, sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka menyukai sesuatu yang bisa menyenangkan hati dan menentramkan jiwa mereka. Oleh sebab itu, banyak orang rela mengorbankan waktunya, memeras otaknya, dan menguras tenaganya, atau bahkan kalau perlu mengeluarkan biaya yang tidak kecil jumlahnya demi meraih apa yang disebut sebagai kepuasan dan ketenangan jiwa. Namun, ada sebuah fenomena memprihatinkan yang sulit sekali dilepaskan dari upaya ini. Seringkali kita jumpai manusia memakai cara-cara yang dibenci oleh Allah demi mencapai keinginan mereka.

Ada di antara mereka yang terjebak dalam jerat harta. Ada yang terjebak dalam jerat wanita. Ada yang terjebak dalam hiburan yang tidak halal. Ada pula yang terjebak dalam aksi-aksi brutal atau tindak kriminal. Apabila permasalahan ini kita cermati, ada satu faktor yang bisa ditengarai sebagai sumber utama munculnya itu semua. Hal itu tidak lain adalah karena manusia tidak lagi menemukan ketenangan dan kepuasan jiwa dengan berdzikir dan mengingat Rabb mereka.

Padahal, Allah ta’ala telah mengingatkan hal ini dalam ayat (yang artinya), “Orang-orang yang beriman dan hati mereka bisa merasa tentram dengan mengingat Allah, ketahuilah bahwa hanya dengan mengingat Allah maka hati akan merasa tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).

Ibnul Qayyim rahimahullah menyebutkan bahwa pendapat terpilih mengenai makna ‘mengingat Allah’ di sini adalah mengingat Al-Qur’an. Hal itu disebabkan hati manusia tidak akan bisa merasakan ketentraman kecuali dengan iman dan keyakinan yang tertanam di dalam hatinya. Sementara iman dan keyakinan tidak bisa diperoleh kecuali dengan menyerap bimbingan Al-Qur’an (lihat Tafsir al-Qayyim, hal. 324)

Ibnu Rajab al-Hanbali berkata, “Dzikir merupakan sebuah kelezatan bagi hati orang-orang yang mengerti.” Demikian juga Malik bin Dinar mengatakan, “Tidaklah orang-orang yang merasakan kelezatan bisa merasakan sebagaimana kelezatan yang diraih dengan mengingat Allah.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 562).

Sekarang, yang menjadi pertanyaan kita adalah : mengapa banyak di antara kita yang tidak bisa merasakan kelezatan berdzikir sebagaimana yang digambarkan oleh para ulama salaf. Sehingga kita lebih menyukai menonton sepakbola daripada ikut pengajian, atau lebih suka menikmati telenovela daripada merenungkan ayat-ayat-Nya, atau lebih suka berkunjung ke lokasi wisata daripada memakmurkan rumah-Nya.

Perhatikanlah ucapan Rabi’ bin Anas berikut ini, mungkin kita akan bisa menemukan jawabannya. Rabi’ bin Anas mengatakan sebuah ungkapan dari sebagian sahabatnya, “Tanda cinta kepada Allah adalah banyak berdzikir/mengingat kepada-Nya, karena sesungguhnya tidaklah kamu mencintai apa saja kecuali kamu pasti akan banyak-banyak menyebutnya.” (lihat Jami’ al-’Ulum wa al-Hikam, hal. 559). Ini artinya, semakin lemah rasa cinta kepada Allah dalam diri seseorang, maka semakin sedikit pula ‘kemampuannya’ untuk bisa mengingat Allah ta’ala. Hal ini secara tidak langsung menggambarkan kondisi batin kita yang begitu memprihatinkan, walaupun kondisi lahiriyahnya tampak baik-baik saja. Aduhai, betapa sedikit orang yang memperhatikannya! Ternyata, inilah yang selama ini hilang dan menipis dalam diri kita; yaitu rasa cinta kepada Allah…

Syaikh as-Sa’di rahimahullah berkata, “Pokok dan ruh ketauhidan adalah memurnikan rasa cinta untuk Allah semata, dan hal itu merupakan pokok penghambaan dan penyembahan kepada-Nya. Bahkan, itulah hakekat dari ibadah. Tauhid tidak akan sempurna sampai rasa cinta seorang hamba kepada Rabbnya menjadi sempurna, dan kecintaan kepada-Nya harus lebih diutamakan daripada segala sesuatu yang dicintai. Sehingga rasa cintanya kepada Allah mengalahkan rasa cintanya kepada selain-Nya dan menjadi penentu atasnya, yang membuat segala perkara yang dicintainya harus tunduk dan mengikuti kecintaan ini yang dengannya seorang hamba akan bisa menggapai kebahagiaan dan kemenangannya.” (al-Qaul as-Sadid Fi Maqashid at-Tauhid, hal. 95)

Kalau demikian keadaannya, maka solusi untuk bisa menggapai ketenangan jiwa melalui dzikir adalah dengan menumbuhkan dan menguatkan rasa cinta kepada Allah. Dan satu-satunya jalan untuk mendapatkannya adalah dengan mengenal Allah melalui keagungan nama-nama dan sifat-sifat-Nya dan memperhatikan kebesaran ayat-ayat-Nya, yang tertera di dalam Al-Qur’an ataupun yang berwujud makhluk ciptaan-Nya. Syaikh Dr. Muhammad bin Khalifah at-Tamimi hafizhahullah berkata, “Sesungguhnya rasa cinta kepada sesuatu merupakan cabang dari pengenalan terhadapnya. Maka manusia yang paling mengenal Allah adalah orang yang paling cinta kepada-Nya. Dan setiap orang yang mengenal Allah pastilah akan mencintai-Nya. Dan tidak ada jalan untuk menggapai ma’rifat ini kecuali melalui pintu ilmu mengenai nama-nama Allah dan sifat-sifat-Nya. Tidak akan kokoh ma’rifat seorang hamba terhadap Allah kecuali dengan berupaya mengenali nama-nama dan sifat-sifat-Nya yang disebutkan di dalam al-Qur’an maupun as-Sunnah…” (Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 16)

Hati seorang hamba akan menjadi hidup, diliputi dengan kenikmatan dan ketentraman apabila hati tersebut adalah hati yang senantiasa mengenal Allah, yang pada akhirnya membuahkan rasa cinta kepada Allah lebih di atas segala-galanya (lihat Mu’taqad Ahlis Sunnah wal Jama’ah fi Tauhid al-Asma’ wa as-Shifat, hal. 21).

Di sisi yang lain, kelezatan di akherat yang diperoleh seorang hamba kelak adalah tatkala melihat wajah-Nya. Sementara hal itu tidak akan bisa diperolehnya kecuali setelah merasakan kelezatan paling agung di dunia, yaitu dengan mengenal Allah dan mencintai-Nya, dan inilah yang dimaksud dengan surga dunia yang akan senantiasa menyejukkan hati hamba-hamba-Nya (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 261)

Banyak orang yang tertipu oleh dunia dengan segala kesenangan yang ditawarkannya sehingga hal itu melupakan mereka dari mengingat Rabb yang menganugerahkan nikmat kepada mereka. Hal itu bermula, tatkala kecintaan kepada dunia telah meresap ke dalam relung-relung hatinya. Tanpa terasa, kecintaan kepada Allah sedikit demi sedikit luntur dan lenyap. Terlebih lagi ‘didukung’ suasana sekitar yang jauh dari siraman petunjuk Al-Qur’an, apatah lagi pengenalan terhadap keagungan nama-nama dan sifat-Nya. Maka semakin jauhlah sosok seorang hamba yang lemah itu dari lingkaran hidayah Rabbnya. Sholat terasa hampa, berdzikir tinggal gerakan lidah tanpa makna, dan Al-Qur’an pun teronggok berdebu tak tersentuh tangannya. Wahai saudaraku… apakah yang kau cari dalam hidup ini? Kalau engkau mencari kebahagiaan, maka ingatlah bahwa kebahagiaan yang sejati tidak akan pernah didapatkan kecuali bersama-Nya dan dengan senantiasa mengingat-Nya.

Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Akan tetapi ternyata kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, sementara akherat itu lebih baik dan lebih kekal.” (QS. al-A’la: 16-17). Allah juga berfirman mengenai seruan seorang rasul yang sangat menghendaki kebaikan bagi kaumnya (yang artinya), “Wahai kaumku, ikutilah aku niscaya akan kutunjukkan kepada kalian jalan petunjuk. Wahai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (yang semu), dan sesungguhnya akherat itulah tempat menetap yang sebenarnya.” (QS. Ghafir: 38-39) (lihat ad-Daa’ wa ad-Dawaa’, hal. 260)

Apabila engkau menangis karena ludesnya hartamu, atau karena hilangnya jabatanmu, atau karena orang yang pergi meninggalkanmu, maka sekaranglah saatnya engkau menangisi rusaknya hatimu… Allahul musta’aan wa ‘alaihit tuklaan.

Sumber: www.muslim.or.id
28

Tuntunan Rasulullah SAW Tentang Sumpah

1. Sumpah Dan Kaffarahnya






walaa taj'aluu allaaha 'urdhatan li-aymaanikum an tabarruu watattaquu watushlihuu bayna alnnaasi waallaahu samii'un 'aliimun

Janganlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2] : 224)






laa yu-aakhidzukumu allaahu biallaghwi fii aymaanikum walaakin yu-aakhidzukum bimaa kasabat quluubukum waallaahu ghafuurun haliimun

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Allah menghukum kamu disebabkan (sumpahmu) yang disengaja (untuk bersumpah) oleh hatimu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun. (QS. Al-Baqarah [2] : 225)














laa yu-aakhidzukumu allaahu biallaghwi fii aymaanikum walaakin yu-aakhidzukum bimaa 'aqqadtumu al-aymaana fakaffaaratuhu ith'aamu 'asyarati masaakiina min awsathi maa tuth'imuuna ahliikum aw kiswatuhum aw tahriiru raqabatin faman lam yajid fashiyaamu tsalaatsati ayyaamin dzaalika kaffaaratu aymaanikum idzaa halaftum waihfazhuu aymaanakum kadzaalika yubayyinu allaahu lakum aayaatihi la'allakum tasykuruuna

Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kafarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya). (QS. Al-Maaidah [5] : 89)

2. Orang Yang Terlanjur Bersumpah Lalu Mengetahui Yang Lebih Baik

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy, dia berkata : Aku pernah bersama dengan sekelompok kaum Asy’ariy datang kepada Nabi SAW meminta kendaraan untuk mengangkut kami. Lalu beliau bersabda, “Demi Allah, aku tidak bisa membawa kalian. Aku tidak punya kendaraan untuk membawa kalian”. (Abu Musa berkata) : Kemudian kami diam beberapa saat. Lalu didatangkan kepada beliau beberapa unta, kemudian beliau menyuruh kami untuk menggunakan tiga unta yang punuknya putih. Ketika kami sudah berangkat, kami berkata (atau sebagian kami berkata kepada yang lain), “Allah tidak akan memberi berkah kepada kita. Dahulu ketika kita datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta kendaraan, beliau terlanjur bersumpah untuk tidak membawa kita. Tetapi buktinya beliau sekarang memenuhi permintaan kita”. Kemudian mereka datang menemui Rasulullah SAW dan menceritakan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Bukan aku yang membawa kalian, akan tetapi Allah yang membawa kalian. Adapun aku, demi Allah, insyaa Allah aku tidak bersumpah atas suatu sumpah, kemudian aku melihat yang lebih baik dari sumpahku itu, melainkan aku membayar kaffarah sumpah itu dan aku melaksanakan yang lebih baik itu”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1268]

Dari Abu Musa Al-Asy’ariy, ia berkata : Kami pernah menemui Rasulullah SAW untuk meminta agar beliau bisa membawa kami. Lalu beliau bersabda, “Aku tidak punya kendaraan untuk membawa kalian. Demi Allah, aku tidak bisa membawa kalian”. Tetapi kemudian Rasulullah SAW mengirim kepada kami tiga ekor unta yang putih punuknya, lalu aku bertanya (dalam bathin), “Sesungguhnya kami datang kepada Rasulullah SAW untuk meminta kendaraan kepada beliau, dan beliau telah bersumpah bahwa beliau tidak bisa membawa kami”. Lalu kami menemui beliau lagi dan menanyakan hal itu kepada beliau. Maka beliau bersabda, “Sesungguhnya tidaklah aku bersumpah atas sesuatu, lalu aku melihat ada sesuatu yang lebih baik dari pada sumpahku tadi, melainkan aku akan mengerjakan sesuatu yang lebih baik itu”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1271]

Dari Abu Hurairah, dia berkata : Pernah di suatu malam hari seorang lakilaki berada di sisi Rasulullah SAW. Kemudian ia pulang kepada keluarganya. Maka dia mendapati anak-anaknya telah tidur nyenyak. Kemudian istrinya menyiapkan makanan untuknya. Tetapi laki-laki tersebut bersumpah tidak akan makan demi anak-anaknya, namun kemudian dia memakannya. Maka dia datang kepada Rasulullah SAW dan menuturkan hal itu kepada beliau. Beliau SAW bersabda, “Barangsiapa terlanjur bersumpah, kemudian dia melihat sesuatu yang lebih baik dari pada sumpahnya tadi, maka hendaknya dia mengerjakan sesuatu yang lebih baik itu dan hendaklah dia membayar kaffarah sumpahnya tersebut”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1271]

Dari ‘Adiy (bin Hatim), dia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Jika salah seorang diantara kalian sudah terlanjur bersumpah, kemudian dia melihat sesuatu yang lebih baik dari pada sumpahnya tadi, maka hendaklah dia membayar kaffarah atas sumpahnya itu dan hendaklah dia mengerjakan sesuatu yang lebih baik tadi. [HR. Muslim juz 3, hal. 1273]

Dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah kamu meminta jabatan. Sesungguhnya jika jabatan itu diberikan kepadamu lewat permintaan, maka kamu akan menanggungnya sendiri. Tetapi jika jabatan itu diberikan kepadamu bukan karena permintaanmu, maka kamu akan ditolong dalam memikul tanggungjawab itu. Dan jika kamu telah terlanjur bersumpah, kemudian kamu melihat ada sesuatu yang lebih baik dari pada sumpahmu itu, maka hendaklah kamu membayar kaffarah sumpahmu dan hendaklah kamu mengerjakan sesuatu yang lebih baik itu”. [HR. Muslim juz 3, hal. 1273]

3. Larangan Sumpah Palsu

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr dari Nabi SAW, beliau bersabda, “(Diantara) dosa-dosa besar ialah mensekutukan Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh orang dan sumpah palsu”. [HR. Bukhari juz 7, hal. 228]

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang bersumpah untuk mengambil harta orang Islam yang bukan haqnya, maka dia akan bertemu Allah sedangkan Allah murka kepadanya”. ‘Abdullah berkata : Kemudian Rasulullah SAW membacakan ayat kepada kami (QS. Ali ‘Imran 77), sebagai pembenar apa yang disabdakan itu









inna alladziina yasytaruuna bi'ahdi allaahi wa-aymaanihim tsamanan qaliilan ulaa-ika laa khalaaqa lahum fii al-aakhirati walaa yukallimuhumu allaahu walaa yanzhuru ilayhim yawma alqiyaamati walaa yuzakkiihim walahum 'adzaabun aliimun

(Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. Bagi mereka adzab yang pedih.) [HR. Muslim juz 1, hal. 123]
31

Curriculum Vitae

Bismillah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Bayangkan, ada seseorang datang kepada Anda minta pekerjaan. Dia datang dengan membawa selembar Curriculum Vitae. Membaca Curriculum Vitae-nya, Anda akan merasa kagum akan prestasinya. Tidak dapat disangkal ia adalah seorang pekerja keras, profesional, dan mahir disegala bidang. Berikut ini adalah Curriculum Vitae-nya :p


Jika ada yang datang kepada Anda membawa lamaran kerja dengan curriculum vitae tersebut, apakah Anda mau menerimanya sebagai karyawan Anda??? atau bahkan sebagai tangan kanan bisnis Anda??? ^____^

Firman Allah swt, 

"Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh(mu), karena sesungguhnya syaitan-syaitan itu hanya mengajak kelompoknya agar mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala." (al-Quran Surat Fathir/35: 6)

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
31

Arti Bahagia

Bismillah

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Postingan kali ini menanggapi postingan dari Stumon yaitu arti bahagia menurut versi pribadi masing-masing, tentulah memang berbeda dari setiap orang, dan ini adalah versiku ^_____^

Mencari kebahagiaan adalah layaknya menangkap kupu-kupu. Sulit bagi mereka yang terlalu bernafsu, namun mudah bagi mereka yang tahu dan memahami apa yang mereka cari. 
"Nafsu manusia kadang seperti air, tak pernah henti untuk selalu mengalir selama masih ada celah, di situlah air mengalir. Bedanya dengan air adalah air mengalir ke tempat lebih rendah, sedangkan nafsu terus mengalir ke arah sebaliknya".

Kita mungkin dapat mencarinya dengan menerjang sana-sini, atau menerobos sana-sini untuk mendapatkannya. Kita dapat saja mengejarnya dengan berlari kencang ke seluruh penjuru arah. Kita pun bahkan mungkin dapat meraihnya dengan bernafsu, layaknya menangkap buruan yang dapat kita santap setelah mendapatkannya. Namun kita belajar, kita belajar bahwa kebahagiaan tidak boleh di dapat dengan cara-cara SEPERTI ITU. Kita belajar bahwa "bahagia" BUKANLAH SESUATU YG DAPAT DI GENGGAM atau BENDA YG DAPAT DI SIMPAN. "Bahagia" adalah layaknya UDARA dan "kebahagiaan" adalah AROMA DARI UDARA ITU. Kita belajar bahwa "bahagia" itu memang ada dalam hati, semakin kita mengejarnya, semakin pula kebahagiaan itu akan pergi dari kita, semakin kita berusaha meraihnya, semakin pula kebahagiaan itu akan menjauh, Lalu harus bagaimana??

Cobalah temukan kebahagiaan itu dalam hatimu, biarkanlah rasa itu menetap dan abadi dalam hati kita. Temukanlah kebahagiaan itu dalam setiap langkah yang kita lakukan, dalam bekerja, dalam belajar, dalam menjalani hidup kita, dalam sedih, dalam gembira, dalam sunyi dan dalam riuh. Temukanlah bahagia itu dengan perlahan, dalam tenang, dalam ketulusan hati kita. BELIEVE IT, bahagia itu ada dimana-mana, rasa itu ada di sekitar kita, bahkan mungkin bahagia itu "hinggap" di hati kita, namun kita tidak pernah memperdulikannya. . .Mungkin juga, bahagia itu berterbangan di sekeliling kita, namun kita terlalu acuh untuk menikmatinya.


Yang perlu kita tau, hidup adalah 10 % dari apa yang sebenarnya terjadi pada diri kita dan 90 % adalah bagaimana sikap kita menghadapinya. Kita tidak dapat mengubah masa lalu, kita tidak dapat mengubah tingkah laku orang. kita juga tidak dapat mengubah apa yang pasti terjadi. Satu hal yang dapat kita ubah adalah satu hal yang dapat kita kontrol, dan itu adalah "sikap" kita. Hal yang paling menakjubkan adalah kita memiliki pilihan untuk menghasilkan sikap yang kita miliki pada hari itu. Mana yang akan kita pilih?? ada dua cara menjalani hidup, yaitu menjalaninya dengan keajaiban-keajaiban atau menjalaninya dengan biasa-biasa saja.

Tentukan sikap kita untuk menyambut kebahagiaan itu. . .
1. Dengan penuh keajaiban karena kita menyerahkan totally kepada Kuasa Tuhan Yang Maha Kuasa.
‎2. Dengan biasa-biasa saja, karena yaaah memang beginilah kehidupan ini. . .

Dan semua orang jika ditanya mereka justru akan memilih nomor 1 kan, karena secara fitrah (suci) kita semua adalah ciptaan-ciptaan Allah Yang Maha Esa untuk selalu dekat denngan-Nya. So. . .mari kita jalani kehidupan ini dengan penuh ajaib, dengan selalu bersyukur setiap apa yang kita dapatkan, InsyaAllah.


Lalu, sadar ga sadar, ada satu hal yang dapat menyebabkan hidup kita menjadi tidak bahagia, yaitu seringnya diri kita berfikir negatif. Semua hal dapat menjadi rumit jika kita selalu memikirkan sisi negatif dari segalanya. Pikiran-pikiran negatif dan kata-kata negatif yang kita keluarkan juga kita dengarkan, secara tidak langsung dapat membuat hati ini juga menjadi negatif. So. . .mau sampai kapan terus negatif thinking??? ANDA adalah apa yg ANDA pikirkan

Kemudian kembalikan semuanya kepada Pencipta kita, dengan cara seperti apa?? tentu saja dengan selalu mengingat Allah dan selalu bersyukur atas apa yang telah Allah berikan.

“(yaitu) orang2 yg beriman & hati mereka menjadi tenteram dg mengingat Allah. Ingatlah, hanya dg mengingati Allahlah hati menjadi tenteram.“ (QS. Ar-Ra'd : 28)

“Karena itu, ingatlah kamu kpd-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu & bersyukurlah kpdKu & janganlah kamu mengingkari (nikmat)Ku. Hai orang2 yg beriman, jadikanlah sabar & shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah swt senantiasa bersama dg orang2 yg sabar.“ (Al-Baqarah:152-153)

Jangan lupa, termasuk sebab yg mendatang kan rizki adalah istighfar dan taubat.


“Maka aku katakan kpd mereka:"Mohonlah ampun kpd Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun" niscaya Dia akan mengirimkan hujan kpdmu dg lebat, & membanyakkan harta & anak2mu, & mengadakan untukmu kebun2 & mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai2.” (QS. 71:10-12)


keep dreamng keep action keep pray keep ikhtiar ^_____^
''Tak ada satupun diantra kita yg Suci tp berusaha mensucikan (memperbaiki) diri itu Indah walau kesucian dan kesempurnaan hanya MilikNya''


Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
23

Its Not The End. . .Its Just To Beginning

1 januari 2012. . .
Lebih dari yang ku pikirkan
Lebih dari yang ku bayangkan
Lebih dari yang ku harapkan

Ya Allah Tuhan semesta alam. . .
Kau tidak selalu memberikan kepada kami apa yang kami inginkan
tapi Kau selalu menggantinya dengan apa yang kami butuhkan
Not Always yesss, but always the best untuk setiap lantunan doa kami
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Tidak ada yang mustahil bagiMu Tuhanku
yang semula kami bayangkan, Kau ubah menjadi gambaran
Tidak ada yang mustahil bagiMu Tuhanku
Kau lah satu-satunya zat yang selalu menepati janjinya
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Be A Good Person
Be A Good Muslim
Be A Good Muslimah
Aamiin Aamiin Aamiin Ya Rabb

KOFTTE ---- Keep On Fighting Till The End
we're the champion. . .InsyaAllah
6

Practice the beloved of Allah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
“Amal yang paling dicintai Allah adalah (amal) yang dikerjakan secara rutin meskipun sedikit.” (HR. Muslim).

Diantara amalan yang dicintai Allah adala:

1.Sholat Tepat Waktu

“Sesungguhnya bagi orang mukmin shalat itu adalah merupakan suatu kewajiban yang telah ditentukan waktunya.” (Q.S. An Nisa : 103).

Oleh karena itu sudah semestinya kita selalu menyegerakan diri ketika waktu shalat tiba dengan tidak menunda-nunda waktu sampai waktu shalat berakhir.

2. Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Ridha Allah kepada seorang hamba tergantung kepada ridha kedua orang tuanya. Sekaya apapun, sepintar apapun, secantik apapun, semanis apapun, serta seperti apapun keadaan hamba, ingatlah ketika orang tua kita melahirkan dengan penuh susah payah. Apapun yang telah dicapai kita juga berkat dukungan dan doa kedua orang tua.

“Telah kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada Ibu Bapak, Ibu yang telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah pula.” (Q.S. Al Ahqaf : 15).

“Hendaklah engkau merendahkan diri terhadap ibu bapakmu dengan penuh kasih sayang.” (Q.S. Bani Isra’il :24).

Berbaktilah kepada kedua orang tua dengan bersikap kasih sayang, hormat, taat kepadanya dan memperlakukan dengan baik dengan menyenangkannya dalam segala hal. Berbakti kepada kedua orang tua selain saat masih hidup, juga ketika mereka sudah tiada dengan sering mendoakannya dan rajin melakukan sedekah atas nama orang tua.

3. Silaturahmi

“Maukah kalian aku tunjukkan amal yang lebih besar pahalanya daripada shalat dan shaum?” Tanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para sahabat. “Tentu saja,” Jawab mereka. Beliau kemudian menjelaskan, “Engkau damaikan yang bertengkar, menyambungkan persaudaraan yang terputus, mempertemukan kembali saudara-saudara yang terpisah, dan mengukuhkan tali persaudaraan di antara mereka adalah amal shaleh yang besar pahalanya.Barangsiapa yang ingin dipanjangkan umurnya dan diluaskan rezekinya, hendaklah ia menyambungkan tali silaturahmi.” (H.R. Bukhari Muslim).

4. Tidak Menyia-nyiakan Waktu

“Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shaleh dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.” (Q.S. Al Ashr : 1-3).

Waktu adalah kehidupan, karenanya kita berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menyia-nyiakan waktu karena menyia-nyiakan waktu sama halnya kita telah menyia-nyiakan hidup kita sendiri.

“Tidak akan bergerak kaki anak Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-Nya sampai dia ditanya dengan lima pertanyaan: Tentang umurnya kemana dia habiskan, tentang masa mudanya dimanfaatkan untuk apa, tentang hartanya dari mana dia mendapatkannya dan kemana dia belanjakan, dan apa yang sudah dia amalkan dari ilmunya?” (H.R. At-Tirmidzi).

5. Tidak Mengikuti Hawa Nafsu

Hawa nafsu memiliki makna kecenderungan, keinginan, atau dorongan hati manusia kepada perkara yang di sukai oleh jiwanya. Hawa nafsu ini mendorong kita melakukan segala aktifitas dan pekerjaan. Ada dua hal yang mempengaruhi hawa nafsu yaitu Malaikat yang mendorong kita mengikuti hawa nafsu yang baik menuntun kita kejalan kebenaran yaitu jalan yang di Ridhai oleh Allah. Sementara Setan mendorong kita mengikuti hawa nafsu yang buruk dan tercela dan menggiring kita kearah kefasikan dan pengingkaran kebenaran yang bermuara pada kesesatan. Sangat penting bagi kita untuk berhati-hati terhadap hawa nafsu yang buruk ini. Karena setiap detik, setiap menit, dan setiap waktu, kita terancam dengan hawa nafsu. Jika kita tidak mewaspadai hawa nafsu ini, maka kita akan terjebak dengan jeratnya tanpa kita sadari.

6. Taat Kepada Allah dan Rasul-Nya

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul memutuskan (perkara) di antara mereka ialah ucapan “kami mendengar dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Q.S. An-Nuur : 51)

Mendengar artinya berusaha sungguh-sungguh memahami kehendak Allah dan Rasul-Nya. Sedang ketaatan yang dimaksud adalah ketaatan dalam menjalankan syariat, baik berupa perintah maupun larangan yang ditetapkan Allah dan Rasul-Nya dalam al-Qur'an dan As-Sunnah. Jadi kita harus memahami tanpa banyak bertanya atau mempertanyakan kemudian segera mengikutinya dengan ketundukan dan kepatuhan untuk menjalankannya.

7. Dzikir Setiap Saat

Dzikir adalah ibadah dan juga amalan bernilai sedekah khususnya bagi orang-orang fakir yang tidak mampu bersedekah dalam bentuk materi. Dengan senantiasa berdzikir setiap saat, seorang hamba senantiasa menjaga harmonisasi dan kelanggengan hubungan vertikalnya kepada Allah, dan secara tidak langsung juga memberikan konsuekensi yang positif terhadap hubungan horizontalnya kepada sesama manusia.

“Karena itu, Ingatlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku (ALLAH) akan ingat pula kepada kalian. Dan bersyukurlah kepada-Ku, serta janganlah kalian mengingkari nikmat-Ku.” (Q.S. Al Baqarah : 152).

Dzikir bisa dilakukan kapan saja dan dalam keadaan apa saja, terkecuali pada keadaan-keadaan yang menurut syariat terdapat pengecualiannya, seperti ketika berada dalam kamar mandi. Semestinya ketika kita berdzikir menghadirkan dalam qalbu, merenungi apa yang dibaca dan memahami maknanya.

Masih banyak amalan-amalan lain yang di cintai Allah, di atas hanya sebagian kecilnya
Demikianlah saudaraku semoga untaian yang sedikit ini bermanfaat, InsyaAllah

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

~Salam santun erat silaturahmi dan ukhuwah fillah ~
Powered by Blogger.
Strawberry On Top Of Cupcake

Weather Palace

Hitori Janai

Don't Stop Dancing